Translate

Wednesday, October 15, 2014

Iman : jagalah aku..


Iman adalah mutiara didalam hati manusia

Yang meyakini Allah Maha Esa Maha Kuasa

Ia tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertaqwa

Ia tak dapat dijual beli

Ia tiada di tepian pantai

Walau apapun caranya jua

Engkau mendaki gunung yang tinggi

Engkau merentas lautan api

Namun tak dapat jua dimiliki, jika tidak kembali pada Allah

-Raihan



Iman adalah mutiara yang ada didalam hati makhluk terbaik ciptaan Allah, manusia. Ia dapat pudar dapat pula berbinar dengan cantiknya. Semakin sering kita mengulasnya maka ia akan semakin bening, dan semakin kita mengabaikannya maka ia kan semakin mengusam. Keimanan seseorang hanya Allah yang dapat mengukurnya. Sungguh tiada satupun makhluk ciptaanNya yang dapat tau dan menilai dengan akurat kadar keimanan seorang manusia. Kita mungkin terlalu sering menilai seseorang dari tampaknya saja, kita menilainya dari ketampakannya di siang hari, tapi taukah kita apa yang dilakukannya dimalam hari ? apa yang dilakukannya saat kita tengah tertidur pulas? ya, sombong sekali kita jika kita mendahuluiNya dengan menilai seseorang dari yang tampak didepan mata kita.


Bagai ombak dilautan, keimanan seseorang pun ada pasang dan surutnya. Lantas bagaimana cara agar kadar keimanan kita selalu dalam keadaan terbaiknya ?


Yang pertama adalah kita memiliki sahabat atau teman yang baik yang senantiasa meningatkan kita saat kita mulai keluar dari jalurNya. Dengan pemahaman yang baik darinya terhadap diri kita, tentu dia akan mengingatkan kita dengan cara yang tak membuat kita menjauhinya.


Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau : “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)


Itulah mengapa ada pepatah berkata bahwa kita boleh berteman dengan siapa saja, tapi kita tak boleh salah dalam memilih sahabat. Karena sahabat kita adalah gambaran diri kita, cerminan diri kita, seperti apa ketampakan kita dapat dilihat dari seperti apa ketampakan sahabat kita


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)


Maka kita wajib hukumnya untuk selektif dalam hal memilih siapa yang akan kita jadikan sahabat. Sahabat yang bukan sekedar mau bersenang-senang saja, tapi sahabat yang juga memikirkan nasib kita dihadapanNya kelak.


Yang kedua adalah berada dalam lingkungan yang baik. Dengan kita ada didalam lingkungan yang baik tentu kita akan dengan mudahnya kembali ke keadaan semula, minimal kita tidak semakin jauh dalam hal futur kita. Oleh sebab itu, selain kita harus berhati-hati dalam memilih sahabat, kita harus berhati-hati pula dalam memilih suatu lingkungan. Ya memang ada beberapa lingkungan yang kita terpaksa berada didalamnya, atau dalam kata lain lingkungan tersebut adalah zona tidak aman bagi diri kita. Tapi harus kita ingat kembali sebuah hadist yang menyatakan bahwa Allah bersama hambaNya yang mengingatNya.


Yang ketiga adalah senantiasa mengingat Allah. Jadi, dengan senantiasa mengingat Allah, baik dalam keadaan iman terbaik kita maupun serendah-rendahnya keimanan kita, baik dalam zona kenyamanan kita maupun zona diluar kenyamanan kita, hanya dengan mengingat Allah saja kita sudah dengan sendirinya membuka jalan kembali ke rengkuhan kasih sayang dan cintaNya.. :)


Tidak berzikir akan mengakibatkan seseorang jadi orang yang rugi :

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS Al Munaafiquun 63:9]

  
Allah mengingat orang yang mengingatNya :
“Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al Baqarah:152]



Orang yang beriman selalu ingat kepada Allah dalam berbagai keadaan :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Ali 'Imran 3:190-191]

Dengan berzikir hati menjadi tenteram.



“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS 13:28]



Saat berada dalam iman tertinggi ingatlah Allah.. pun dalam keadaan terburuknya iman, berusahalah menghadirkanNya dalam hati kita, karena sesungguhnya Allah itu dekat, sangat dekat :)

Subhanallah… Allah itu Maha Baik ya :)


Untuk dapat bertahan dengan kadar keimanan terbaik dalam lingkungan yang terburuk tentu memerlukan bekal diri yang cukup. Misalnya kita hendak berdakwah keluar zona nyaman kita, kita harus secara mandiri membekali diri, baik dari segi ilmu yang kita miliki maupun dari segi strategi dakwah itu sendiri. Pun kita juga harus berhati-hati, jangan sampai niatan awal kita mewarnai tapi karena bekal amunisi yang kurang dan persiapan diri yang tidak matang justru membuat kita terwarnai. Semua kembali kepada niatan awal kita, innamal a’malu bin niat..

Niatkan semuanya hanya karena dan untuk Allah Azza wa Jalla..


Selamat berjuang meningkatkan kadar keimanan dan istiqomah dalam keadaan terbaik iman.. karena kita tak tau kapan saat terakhir kita didunia. Persiapkan keadaan terbaik untuk menghadapNya :)

Don’t worry, Allah maha Melihat.. Ia tahu siapa saja hambaNya yang bersungguh-sungguh kembali kepadaNya..



Selamat berjuang para mujahid mujahaddah kecintaan Allah :)

Hammasah!

Thursday, October 2, 2014

Sang Nabi

Nabi besar Muhammad SAW, Rasulullah SAW, habibullah. Manusia terpilih oleh Allah. Siapa yang tak kenal beliau? siapa yang tak mengidolakan beliau? Pada postingan kali ini saya akan mengutip kisah tentang perjalanan hidup Manusia Mulia ini. Semoga bermanfaat J

Betapa sejak beliau masih bayi sampai menjelang dewasa, hidupnya penuh dengan hikmah dan pencapaian luar biasa. Kita akan terperangah mengetahui betapa Allah SWT menyiapkan dengan sempurna tahapan-tahapan kehidupannya yang begitu memikat, sebagai persiapan beliau sebelum diangkat menjadi utusan dan pemimpin ummat.

Namanya Muhammad bin Abdullah. Ia adalah keturunan Ismail bin Ibrahim, dua utusan Allah yang membangun tempat suci di Makkah, Ka’bah. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Beliau adalah jawaban atas do’a Nabi Ibrahim  yang berharap agar keturunannya juga diutus sebagai nabi dan rasul.

Sewaktu masih di dalam kandung, beliau sudah ditinggal wafat oleh ayahnya. Tak lama setelah lahir ke dunia, beliau dititipkan kepada Halimah As-Sa’diyah, seorang wanita pedalaman, untuk disusui. Sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Arab saat itu menitipkan anak mereka kepada para pengasuh yang berasal dari pedalaman. Tujuannya adalah untuk mendekatkan mereka dengan alam dan untuk memperkenalkan budaya masyarakat Arab yang murni, terutama dalam hal bahasa, sejak mereka berusia dini.

Saat berusia empat tahun, saat belum mengerti banyak tentang kehidupan, ia dihampiri dua malaikat yang berniat untuk membersihkan hatinya. Saat itulah terjadi peristiwa besar dalam hidupnya. Dua malaikat itu membelah dada Muhammad kecil dan mencuci hatinya. Peristiwa itu merupakan pengalaman spiritual yang sangat berarti pada masa awal-awal kehidupan Muhammad. Mendengar laporan anak susuannya yang lain tentang peristiwa tersebut, halimah cemas dengan keselamatan Muhammad dan mengembalikannya kepada ibunya.

Saat berusia enam tahun, tak lama setelah beliau kembali berkumpul dengan keluarganya, ibunda Muhammad meninggal. Beliau kemudian diasuh oleh sang kakek, Abdul Muthallib. Abdul Muthallib sangat menyayangi Muhammad kecil. Beliau adalah satu-satunya cucu yang diizinkan sang kakek untuk duduk diatas karpet kehormatannya di dekat Ka’bah.

“Biarkan ia duduk diatas karpet itu. Demi Allah, anakku ini akan mengukir sejarah.”

Malang tak dapat dihindari. Di usianya yang baru menginjak delapan tahun, Abdul Muthallib meninggal. Abu Thalib, paman beliau dari pihak ayah, kemudian mengambil alih peran untuk mengasuh beliau. Seperti halnya nabi-nabi yang lain, di usia ini, beliau sudah dipercaya masyarakat sekitarnya untuk menggembala kambing. Salah satu majikan beliau adalah Ibnu Abi Mu’ith, yang memberi imbalan untuk beliau segenggam kurma atas jasanya menggembalakan kambing-kambingnya. Lembah dan gunung-gunung batu disekitar Makkah adalah saksi ketelatenan dan kesabaran serta kasih sayang beliau kepada binatang-binatang ternak yang beliau gembalakan. Beliau perhatikan mana diantara kambing-kambing itu yang sakit, tidak mau makan, atau tertinggal dari kawanannya.

Pada saat berusia 12 tahun, beliau membantu pamannya berniaga ke Suriah. Bersama kafilah dagang yang membawa barang-barang berharga dari Makkah, beliau merasakan pengalaman yang baru kali itu beliau alami. Kasih sayang dan rasa empatinya yang besar yang mendorong beliau untuk berani mengambil resiko menempuh perjalanan yang jauh itu demi membantu kondisi ekonomi pamannya yang miskin. Dalam kurun 13 tahun sejak pengalaman pertama itu, beliau telah melakukan 18 kali perjalanan ke luar negeri dan membawa keuntungan yang luar biasa besar.

Usia 15 tahun adalah saat pertama kali beliau mengikuti peperangan membela sukunya. Perang itu dikenal dengan perang Fijjar, yang berlangsung sekita  lima tahun. Pengalaman mengikuti peperangan tersebut memberikan kesan yang amat kuat bagi Muhammad. Takdirnya sebagai salah satu anggota salah satu suku Arab membuatnya sadar terhadap segala ancaman yang mungkin membahayakannya. Keikutsertaannya dalam perang itu membuat mental dan keberanian Muhammad semakin terasah.

Pengalaman lain yang tak kalah mengesankan terjadi saat beliau berusia 20 tahun. Untuk menghindari pertumpahan darah antara suku-suku Arab di Makkah, para pemuka suku-suku itu sepakat membuat perjanjian. Beliau adalah salah satu orang yang terlibat dalam pembuatan perjanjian itu, yang kemudian dikenal denga perjanjian Hiful Fudhul. Ini adalah pengalaman diplomatik yang luar biasa pada masa itu bagi pemuda seusia Muhammad. Usianya memang masih muda, namun ia sudah terkenal karena keluhuran sikap dan kecerdasannya.

Lima tahun kemudian, berbekal pengalaman berdagangnya di Suriah dan daerah-daerah lain disekitarnya, Muhammad dipercaya untuk menjalankan perusahaan dagang multinasional milik Khadijah binti Khuwailid, seorang janda kaya raya yang sangat disegani. Khadijah tidak salah orang. Di tangan Muhammad sayap bisnisnya semakin melebar dan keuntungan yang diperoleh juga semakin besar.

Hubungan antara Khadijah dan Muhammad berlangsung baik. Dan, hubungan itu tidak terhenti sekedar hubungan profesional. Kejujuran yang jarang ditemui Khadijah dikalangan bangsa Arab saat itu, keuletan berbisnis yang sangat matang, nasab yang sangat mulia baik dari pihak ayah maupun ibu, ditambah ketampanan dan kharisma yang tiada banding ada di dalam diri Muhammad. Khadijah pun tak dapat memungkiri bisikan hatinya. Ia jatuh hati kepada pekerjanya itu. Ia pun memutuskan untuk melamar Muhammad.

Muhammad hidup bahagia bersama Khadijah dan anak-anaknya. Selain dikenal baik, ia juga dipercaya masyarakatnya untuk memutuskan berbagai masalah. Pengaruhnya semakin meluas mengingat ia berasal dari keluarga terpandang dan berpengalaman dalam menangani permasalahan kaumnya. Wanita, harta dan tahta kini ada di geggamannya. Namun, semua itu tidak melunturkan budi pekertinya. Ia tak menikah lagi, sesuatu yang biasa dilakukan dalam budaya Arab saat itu, dan beliau tetap hidup sederhana.

Mendekati usia 40 tahun, beliau sering pergi ke gua yang ada di gunung-gunung batu di sekitar Makkah. Di tempat sepi itu beliau memandang kotanya dari kejauhan, merenungkan masyarakatnya yang semakin lama semakin lupa dengan sang Penguasa semesta. Puncaknya terjadi saat beliau genap berusia 40 tahun. Saat itu, masyarakat Arab sudah sering mendengar tentang Jibril, sesosok makhluk ghaib yang menemui manusia-manusia untu menyampaikan firman Tuhan. Tapi, Muhammad tak pernah menyangka bahwa dirinya adalah salah satu dari manusia-manusia pilihan itu dan beliaulah sebagai manusia terakhir yang menerima pesan-pesan suci itu.

“bacalah!” ujar Jibril. Muhammad bingung, “Aku tak dapat membaca,” jawabnya.
“bacalah!” Jibril mengulangi perintahnya hingga dua kali. Muhammad pun hanya bisa mengulangi jawabannya.

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dialah yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia.” Jibril menyampaikan wahyu pertama untuk manusia pilihan itu. Sejak saat itulah, lelaki yang tak pernah mendapat sentuhan kasih sayang seorang ayah dan tak lama merasakan kehangatan cinta sang ibu itu diangkat sebagai rasul, sang penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan.

Dialah Muhammad SAW, sang utusan Allah. Desah nafasnya adalah kasih sayang yang tak terhingga untuk kita. Denyut nadinya adalah harapan yang membuncah agar kita menapaki jalan yang telah ditunjukkannya. Sabdanya adalah cahaya yang menerang malam-malam kita. Akhlaknya adalah teladan yang mengantarkan kita menuju pintu kebahagiaan.
Tidakkah hatimu tergerak untuk mengikuti jalannya ?

Dikutip dari : Open Your Heart, Follow Your Prophet, karya @teladanrasul

Selamat Hari Batik Nasional :)

Sunday, September 28, 2014

Lillah ?

Perbuatan yang kita lakukan sia-sia karena tak disertai rasa ikhlas,
Perjuangan yang kita lakukan sia-sia karena tak ada tujuan yang jelas,
Pengetahuan yang kita miliki sia-sia karena tak diamalkan,
Pengorbanan yang kita lakukan sia-sia karena mengharapkan pujian,
Marah yang kita lampiaskan sia-sia karena dilandaskan emosi bukan rasio,
Cinta yang kita berikan sia-sia karena dilandasi syahwat semata,
Kegagalan yang kita alami sia-sia karena dijadikan alasan keputusasaan,
Musibah yang kita jumpai sia-sia karena tak menjadikan kita semakin kuat,
Kesuksesan yang kita raih sia-sia karena membuat kita mejadi sombong..

Na'udzubillahimindzalik..

Kesiapan apa lagi yang akan kita lakukan ?
Apakah kita hanya akan berbuat sia-sia tanpa ada manfaatnya ?
Sudahkan Dia menjadi prioritas kita dalam beramal ?
Sungguh tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, selagi masih ada kesempatan mau tunggu apa lagi ?
Karena Allah menilai PROSES nya bukan hasilnya..
Ciptakan proses terbaik dari usaha terbaik kita, dan serahkan hasil akhirnya pada Allah semata..
Terus upgrade kapasitas diri agar kita menjadi 'pantas' sebagai yang dicintaNya :)

-Semesta Membina

Friday, September 26, 2014

Ukhuwwah Fillah Till Jannah


Kebanyakan orang menjalin tali persahabatan atau tali persaudaraan setelah cukup lama saling mengenal. Bahkan ada yang sangat lama, bertahun-tahun. Katanya sih tahun-tahun yang dilewati besama sebagai ajang saling mengenal lebih jauh. Kesimpulannya semakin lama bersahabat maka semakin kenal kita sama dia. ciee..
Aku emang baru kenal dia, mungkin masih belum terhitung satu tahun jadi masih prematur.. :D
Ajaibnya, kita klop banget. Kemana-mana pas berdua, kaya sepasang sandal crocs coklat yang ditempelin sticker (kata yang punya sih biar ngga ketuker). Mereka pernah berpisah, dan Allah mempertemukannya kembali dengan cara yang unpredictable. Halah :D
Sebuah ikatan persaudaraan akan bertahan lama jika landasan dari ikatan itu kuat. Andai kata kita mau membangun sebuah bangunan tentu banyak hal yang perlu dijadikan pertimbangan. Baik dari segi konstruksinya, sampai bahan bangunan yang akan dipakai. Tak sekedar menyusun, tatanan batu bata paling bawah harus rapi, kokoh, dan kuat, tentunya dengan penuh perhitungan saat memasangnya. Barulah kita bisa memiliki sebuah bangunan yang kokoh yang akan awet dan tahan lama meski diterjang badai, terguyur derasnya hujan dan terpapar panasnya sengatan terik matahari.. :D
Yap, bener banget. Allah-lah yang wajib kita jadikan landasan terkuat dalam sebuah ikatan. Agar ikatan yang kita jalin mengandung keberkahan didunia dan akhirat sehingga mempu mengantarkan kita dan mengumpulkan kita kembali si SyurgaNya.. :) Sekalipun ada ikatan darah, tidak menjamin akan terjalin hubungan kuat yang saling mencintai dan menghormati dengan tulus. Tidak adanya landasan saling cinta karena Allah, membuat kasus jalinan persaudaraan yang tersemai bertahun-tahun lamanya malah kandas ditengah jalan, karena tidak kokoh dan saat tertiup angin, baru ketiup angin, eh tumbang.... *uwooo
Ada rumusnya nih untuk menjalin hubungan persaudaraan yang erat antara manusia yang berlandaskan cinta atas nama Allah, hubungan yang ngga bakal keputus kecuali Allah berkehendak lain. Namanya rumus Cinta Segitiga. Eits... jangan salah fokus, cinta segitiga disini maksudnya cinta antara kita dan dia, dan diantara kita dan dia ada Allah. Kita mencintai Allah begitupun dia, jadi Allah menjadi satu-satunya alasan terkuat kita mencintai dia. Dan Allah mencintai kita berdua yang saling mencintai karena Allah.. yeyy :3 *dia=sahabat kita
Ketika Allah menjadi prioritas, jika ada permasalahan tentu kita akan mengembalikannya kepada Allah lagi. Menyelesaikan permasalahaan yang ada berdasarkan hukum Allah terhadap permasalahan tersebut. Landasan cinta karena Allah dan untuk Allah akan semakin menumbuhkan ikatan yang dahsyat dalam diri seseorang dengan yang lainnya. :)

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang saling mencintai karena Allah :)
Allahummaamin..
Ukhibbukum fillah~

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  "Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya". Hadist ditakhrij Abu Ya’la (no. 2880, 3171, 3069, 3245).


Sunday, September 7, 2014

Sekali Berarti

biarlah hembusnya angin menguatkanmu
dan biarlah hujan merimbunkan daun-daunmu
selagi kaki kokoh berdiri
dan harapan kan jadi kenyataan
maka jadikanlah yang sekali ini berarti

-rnu

Kita

Kita akan terus berlari bukan ?
Sekalipun yang kita kejar adalah sebuah ketidakpastian
Namun kita tetap berlari dg penuh keyakinan
Karena kita tau apa yang kita jemput adalah hasil terbaik dari usaha terbaik yang kita lakukan
Aku mengerti banyak hal karena kalian
Bahwa jika hari ini mendung tak berarti hujan akan turun

-kita


Lapangan becek, ndak ada ojek :D
Belajar dari setiap kejadian dalam hidup kita akan semakin mendewasakan diri kita. Pahit manis tentu itu semua telah berjalan sesuai dengan skenarioNya. Ya memang kita bisa memperoleh banyak pelajaran penting dengan berguru dari pengalaman orang lain, tapi terkadang permasalahan yang kita alami sendiri tentu lebih membekas bukan ?
 
Kita tidak akan pernah tahu rasa gula itu manis jika kita tak tahu bahwa kopi itu pahit. Perbedaan pun memberi sebuah pelajaran. Dari kepanitiaan ini banyak hal yang saya peroleh. Mulai dari mengenal dan memahami watak banyak orang secara bersamaan, belajar mengalah dan melawan ego masing-masing, belajar mensyukuri indahnya perbedaan, sampai belajar melayani tanpa pamrih dan tanpa banyak menuntut.
Terkadang ada banyak orang yang berfikir, untuk apa sih capek-capek kerja ikut kepanitiaan ini itu tapi ngga dapet bayaran, mending kerja dapet uang atau tidur dirumah pake kipasan lebih enak kan..

Hey, tidak semuanya bisa dinilai dengan materi. Banyak orang belum menyadari bahwa terkadang apa yang lebih penting itu tidak terlihat wujudnya. Tentunya dengan niat utama hanya karena Allah semata..
Untuk apa kita mendaki gunung tertinggi, kita ciptakan asa setinggi bintang, kita sebrangi lautan jika bukan untuk kembali kepada Tuhan kita Allah Azza wa Jalla ? :)

demi masa, sesungguhnya manusia kerugian. Melainkan yang yang beriman dan beramal sholeh
- QS. Al-Ashr 1-3
 
 

Friday, August 22, 2014

Namamu adalah do'a untukmu

Nama adalah do’a dari kedua orang tua untuk anaknya. Setiap orang tua memiliki pesan dan pengharapan rahasia yang tercantum sepanjang hayat dalam nama yang ada didiri anaknya. Sebuah nama tentu memiliki sejarahnya masing-masing. Sejak sekian lama saya baru-baru ini mengetahui arti dari nama yang diberikan oleh ummi dan abi saya. Rumaisha Nur Ulya, rumaisha berarti yang mendamaikan hati, nur artinya cahaya, dan ‘ulya memiliki makna yang Tinggi di sisi Allah. Jadi jika digabungkan nama saya memiliki arti, Cahaya Tinggi yang Mendamaikan Hati.

Yang paling membuat saya penasaran adalah makna dan sejarah dibalik nama Rumaisha itu sendiri. Berikut adalah kisahnya. Rumaisha adalah salah seorang shahabiyah Rasulullah SAW.Untuk lengkapnya begini ceritanya:Ia seorang wanita keturunan bangsawan dari kabilah Anshar suku Khazraj memiliki sifat keibuan dan berwajah manis menawan. Selain itu ia juga berotak cerdas penuh kehati-hatian dalam bersikap, dewasa dan berakhlak mulia, sehingga dengan sifat-sifatnya yang istimewa itulah pamannya yang bernama Malik bin Nadhar melirik dan mempersuntingnya. Rumaisha Ummu Sulaim binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Malik adalah satu dari wanita saliha yang memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullah.
Pada saat Rasululllah menyerukan dakwah menuju tauhid, tanpa keraguan lagi Ummu Sulaim langsung memeluk agama Islam, dan tidak peduli akan gangguan dan rintangan yang kelak akan dihadapinya dari masyarakat jahili paganis.
Namun suaminya, Malik bin Nadhir sangat marah saat mengetahui istrinya telah masuk Islam. Dengan dada gemuruh karena emosi, ia berkata pada Ummu Sulaim: "Engkau kini telah terperangkap dalam kemurtadan!"
"Saya tidak murtad. Justru saya kini telah beriman," jawab Ummu Sulaim dengan mantap. Dan kesungguhan Ummu Sulaim memeluk agama Allah tidak hanya sampai di situ. Ia juga tanpa bosan berusaha melatih anaknya, Anas, yang masih kecil untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Melihat kesungguhan istrinya serta pendiriannya yang tak mungkin tergoyahkan membuat Malik bin Nadhir bosan dan tak mampu mengendalikan amarahnya. Hingga ia kemudian bertekad untuk meninggalkan rumah dan tidak akan kembali sampai istrinya mau kembali kepada agama nenek moyang mereka. Ia pun pergi dengan wajah suram. Sayangnya, di tengah jalan ia bertemu dengan musuhnya, kemudian ia dibunuh. Saat mendengar kabar kematian suaminya dengan ketabahan yang mengagumkan ia berkata, "Saya akan tetap menyusui Anas sampai ia tak mau menyusu lagi, dan sekali-kali saya tak ingin menikah lagi sampai Anas menyuruhku."
Setelah Anas agak besar, Ummu Sulaim dengan malu-malu mendatangi Rasulullah dan meminta agar beliau bersedia menerima Anas sebagai pembantunya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima Anas dengan rasa gembira. Dan dari semua keputusannya itu, Ummu Sualim kemudian banyak dibicarakan orang dengan rasa kagum.
Dan seorang bangsawan bernama Abu Thalhah tak luput memperhatikan hal itu. Dengan rasa cinta dan kagum yang tak dapat disembunyikan tanpa banyak pertimbangan ia langsung melangkahkan kakinya ke rumah Ummu Sulaim untuk melamarnya dan menawarkan mahar yang mahal. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,
"Tidak selayaknya saya menikah dengan seorang musyrik, ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa sesembahanmu selama ini hanyalah sebuah patung yang dipahat oleh keluarga fulan. Dan apabila engkau mau menyulutnya api niscaya akan membakar dan menghanguskan patung-patung itu."
Perkataan Ummu Sulaim amat telak menghantam dadanya. Abu Thalhah tak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Namun itu semua merupakan realita yang harus ia terima. Abu Thalhah bukanlah orang yang cepat putus asa. Dikarenakan cintanya yang tulus dan mendalam terhadap Ummu Sulaim, di lain kesempatan ia datang lagi menjumpai ibunda Anas dan mengiming-iming mahar yang lebih wah serta kehidupan kelas atas. Sekali lagi, Ummu Sulaim muslimah yag cerdik dan pintar ini tetap teguh dengan keimanannya. Sedikit pun ia tidak tergoda oleh kenikmatan dunia yag dijanjikan oleh Abu Thalhah. Baginya kenikmatan Islam akan lebih langgeng daripada seluruh kenikmatan dunia. Masih dengan penolakanya yang halus ia menjawab, "Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?"
"Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan," kata Abu Thalhah. "Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam," tukas Ummu Sualim tandas. "Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?" Tanya Abu Thalhah. "tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri," tegas Ummu Sulaim. Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berseru, "Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya."

Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hinnga tanpa terasa di hadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, "Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya." Ummu Sulaim tersenyum haru dan berpaling kepada anaknya Anas, "Bangunlah wahai Anas."
Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, "Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya." Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.
Abu Thalhah sendiri adalah seorang konglomerat nomor satu dari kabilah Anshar. Dan harta yang paling dia cintai yaitu tanah perkebunan "Bairuha". Tanah perkebunan itu letaknya persis menghadap masjid. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah minum air segar yang ada di lokasi itu, sampai kemudian turun ayat yang berbunyi:
"Sekali-kali belum sampai pada kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." (Ali Imran:92) Mendengar ayat ini, kontan Abu Thalhah menghadap Rasulullah. Setelah membacakan ayat tadi Abu Thalhah melanjutkan, "Dan sesungguhnya harta yang paling saya cintai adalah tanah perkebunan Bairuha. Saat ini tanah itu saya sedekahkan untuk Allah dengan harapan akan mendapatkan ganjaran kebaikan dari Allah kelak. Maka pergunakanlah sekehendak Anda, wahai Rasulullah." Dan bersabdalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, "Bakh, bakh itu adalah harta yang menguntungkan dan saya telah mendengar perkataanmu tentang harta itu dan saya sekarang berpendapat sebaiknya engkau bagi-bagikan tanah itu untuk keluarga kalian."


Abu Thalhah pun menuruti perintah Rasululah dan membagi-bagikan tanah itu kepada sanak familinya dan anak keturunan pamannya. Tak berapa lama Alah memuliakan seorang anak laki-laki kepada pasangan berbahagia itu dan diberi nama Abu Umair. Suatu kali burung kesayangan Abu Umair mati sehingga Abu Umair menangis dengan sedih. Saat itu lewatlah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya. Melihat kesedihan Abu Umair, Rasulullah segera menghibur dan bertanya, "Wahai Abu Umair apa gerangan yang diperbuat oleh burung kecil?"

Namun takdir Allah memang tak mampu diduga. Allah subhanahu wa ta’ala kembali ingin menguji kesabaran pasangan sabar ini. Tiba-tiba saja, bocah mungil mereka Abu Umair jatuh sakit sehingga ayah dan ibunya dibuat cemas dan repot. Padahal ia adalah putra kesayangan Abu Thalhah. Jika ia pulang dari pasar, yang pertama kali ditanyakan adalah kesehatan dan keadaan putranya dan ia belum mereasa tenang bila belum melihatnya. Tepat pada waktu sholat, Abu Thalhah pergi ke masjid. Tak lama setelah kepergiannya, putranya Abu Umair menghembuskan nafas terakhir.
Ummu Sulaim memang seorang ibu mukminah yang sabar. Ia menerima peristiwa itu dengan sabar dan tenang. Ummu Sulaim lantas menidurkan putranya di atas kasur dan berujar berulang-ulang, "Innaa lillahi wa inna ilaihi rrji’un." Dengan suara berbisik ia berkata kepada sanak keluarganya, "Jangan sekali-kali kalian memberitahukan perihal putranya pada Abu Thalhah sampai aku sendiri yang memberitahunya." Sekembalinya Abu Thalhah, alhamdulillah, air mata kesayangan Ummu Sulaim telah mongering. Ia menyambut kedatangan suaminya dan siap menjawab pertanyaannya. "Bagaimana keadaan putraku sekarang?" "Dia lebih tenang dari biasanya." Jawab Ummu Sulaim dengan wajar. Abu Thalhah merasa begitu letih hingga tak ada keinginan menengok putranya. Namun hatinya turut berbunga-bunga mengira putranya dalam keadaan sehat wal afiat. Ummu Sulaim pun menjamu suaminya dengan hidangan yang istimewa dan berdandan serta berhias dengan wangi-wangian, membuat Abu Thalhah tertarik dan mengajaknya tidur bersama.
Setelah suaminya terlelap, Ummu Sulaim memuji kepada Allah karena berhasil menentramkan suaminya perihal putranya, karena ia menyadari Abu Thalhah telah mengalami keletihan seharian, sehingga ia amembiarkan suaminya tertidur pulas. Menjelang subuh, baru Ummu Sulaim berbicara pada suaminya, seraya bertanya, "Wahai Abu Thalhah apa pendapatmu bila ada sekelompok orang meminjamkan barang kepada tetangganya lantas ia meminta kembali haknya. Pantaskan jika si peminjam enggan mengembalikannya?"
"Tidak," jawab Abu Thalhah. "Bagaimana jika si peminjam enggan mengembalikannya setelah menggunakannya?" "Wah, mereka benar-benar tidak waras," Abu Thalhah menukas.
"Demikian pula putramu. Allah meminjamkannya pada kita dan pemiliknya telah mengambilnya kembali. Relakanlah ia," kata Ummu Sulaim dengan tenang. Pada mulanya Abu Thalhah marah dan membentak, "Kenapa baru sekarang kau beritahu, dan membiarkan aku hingga aku ternoda (berhadats karena berhubungan suami istri)?" Dengan rasa tabah Ummu Sulaim tak henti-henti mengingatkan suaminya hingga ia kembali istirja dan memuji Allah dengan hati yang tenang.
Pagi-pagi buta sebelum cahaya matahari kelihatan penuh, Abu Thalhah menjumpai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian itu. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, "Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan barakah pada malam pengantin kalian berdua."
Benar saja Ummu Sulaim lantas mengandung lagi dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin Thalhah oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan subhanallah barakahnya ternyata tak hanya sampai di situ. Abdullah kelak di kemudian hari memiliki tujuh orang putra yang semuanya hafizhul Qur’an. Keutamaan Ummu Sulaim tidak hanya itu, Allah subhanahu wa ta’ala juga pernah menurunkan ayat untuk pasangan suami istri itu dikarenakan suatu peristiwa. Sampau Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menggembirakannya dengan janji surga dalam sabdanya
"Aku memasuki surga dan aku mendengar jalannya seseorang. Lantas aku bertanya "Siapakah ini?" Penghuni surga spontan menjawab "Ini adalah Rumaisha binti Milhan, ibnu Anas bin Malik."

-subhanallah wa bihamdi subhanallahil adzim