Perbuatan yang kita lakukan sia-sia karena tak disertai rasa ikhlas,
Perjuangan yang
kita lakukan sia-sia karena tak ada tujuan yang jelas,
Pengetahuan yang kita miliki
sia-sia karena tak diamalkan,
Pengorbanan yang kita lakukan sia-sia karena mengharapkan
pujian,
Marah yang kita lampiaskan sia-sia karena dilandaskan emosi bukan rasio,
Cinta yang kita berikan sia-sia karena dilandasi syahwat semata,
Kegagalan yang
kita alami sia-sia karena dijadikan alasan keputusasaan,
Musibah yang kita
jumpai sia-sia karena tak menjadikan kita semakin kuat,
Kesuksesan yang kita raih
sia-sia karena membuat kita mejadi sombong..
Na'udzubillahimindzalik..
Kesiapan apa lagi yang akan kita lakukan
?
Apakah kita hanya akan berbuat sia-sia tanpa ada manfaatnya ?
Sudahkan Dia menjadi prioritas kita dalam beramal ?
Sungguh tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, selagi masih ada kesempatan mau tunggu apa lagi ?
Karena Allah menilai PROSES nya bukan hasilnya..
Ciptakan proses terbaik dari usaha terbaik kita, dan serahkan hasil akhirnya pada Allah semata..
Terus upgrade kapasitas diri agar kita menjadi 'pantas' sebagai yang dicintaNya :)
-Semesta Membina
Translate
Sunday, September 28, 2014
Friday, September 26, 2014
Ukhuwwah Fillah Till Jannah
Kebanyakan orang menjalin tali
persahabatan atau tali persaudaraan setelah cukup lama saling mengenal. Bahkan ada yang sangat lama,
bertahun-tahun. Katanya sih tahun-tahun yang dilewati besama sebagai ajang
saling mengenal lebih jauh. Kesimpulannya semakin lama bersahabat maka semakin
kenal kita sama dia. ciee..
Aku emang baru kenal dia, mungkin masih belum terhitung
satu tahun jadi masih prematur.. :D
Ajaibnya, kita klop banget. Kemana-mana pas berdua, kaya sepasang
sandal crocs coklat yang ditempelin sticker (kata yang punya sih biar ngga
ketuker). Mereka pernah berpisah, dan Allah mempertemukannya kembali dengan
cara yang unpredictable. Halah :D
Sebuah ikatan persaudaraan akan
bertahan lama jika landasan dari ikatan itu kuat. Andai kata kita mau membangun
sebuah bangunan tentu banyak hal yang perlu dijadikan pertimbangan. Baik dari
segi konstruksinya, sampai bahan bangunan yang akan dipakai. Tak sekedar
menyusun, tatanan batu bata paling bawah harus rapi, kokoh, dan kuat, tentunya
dengan penuh perhitungan saat memasangnya. Barulah kita bisa memiliki sebuah
bangunan yang kokoh yang akan awet dan tahan lama meski diterjang badai,
terguyur derasnya hujan dan terpapar panasnya sengatan terik matahari.. :D
Yap, bener banget.
Allah-lah yang
wajib kita jadikan landasan terkuat dalam sebuah ikatan. Agar ikatan
yang kita jalin mengandung keberkahan didunia dan akhirat sehingga mempu
mengantarkan kita dan mengumpulkan kita kembali si SyurgaNya.. :)
Sekalipun ada ikatan
darah, tidak menjamin akan terjalin hubungan kuat yang saling mencintai
dan
menghormati dengan tulus. Tidak adanya landasan saling cinta karena
Allah, membuat
kasus jalinan persaudaraan yang tersemai bertahun-tahun lamanya malah
kandas ditengah jalan, karena tidak kokoh dan saat tertiup angin, baru
ketiup angin, eh tumbang.... *uwooo
Ada rumusnya nih untuk menjalin
hubungan persaudaraan yang erat antara manusia yang berlandaskan cinta atas
nama Allah, hubungan yang ngga bakal keputus kecuali Allah berkehendak lain. Namanya
rumus Cinta Segitiga. Eits... jangan salah fokus, cinta segitiga disini
maksudnya cinta antara kita dan dia, dan diantara kita dan dia ada Allah. Kita mencintai
Allah begitupun dia, jadi Allah menjadi satu-satunya alasan terkuat kita
mencintai dia. Dan Allah mencintai kita berdua yang saling mencintai karena
Allah.. yeyy :3 *dia=sahabat kita
Ketika Allah menjadi
prioritas,
jika ada permasalahan tentu kita akan mengembalikannya kepada Allah
lagi. Menyelesaikan permasalahaan yang ada berdasarkan hukum Allah
terhadap permasalahan tersebut. Landasan cinta karena Allah dan
untuk Allah akan semakin menumbuhkan ikatan yang dahsyat dalam diri
seseorang
dengan yang lainnya. :)
Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang saling
mencintai karena Allah :)
Allahummaamin..
Ukhibbukum fillah~
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mencintai karena Allah,
membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena
Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya". Hadist ditakhrij Abu Ya’la
(no. 2880, 3171, 3069, 3245).
Sunday, September 7, 2014
Sekali Berarti
biarlah hembusnya angin menguatkanmu
dan biarlah hujan merimbunkan daun-daunmu
selagi kaki kokoh berdiri
dan harapan kan jadi kenyataan
maka jadikanlah yang sekali ini berarti
-rnu
dan biarlah hujan merimbunkan daun-daunmu
selagi kaki kokoh berdiri
dan harapan kan jadi kenyataan
maka jadikanlah yang sekali ini berarti
-rnu
Kita
Kita akan terus berlari bukan ?
Sekalipun yang kita kejar adalah sebuah ketidakpastian
Namun kita tetap berlari dg penuh keyakinan
Karena kita tau apa yang kita jemput adalah hasil terbaik dari usaha terbaik yang kita lakukan
Aku mengerti banyak hal karena kalian
Bahwa jika hari ini mendung tak berarti hujan akan turun
-kita
Lapangan becek, ndak ada ojek :D
Belajar dari setiap kejadian dalam hidup kita akan semakin mendewasakan diri kita. Pahit manis tentu itu semua telah berjalan sesuai dengan skenarioNya. Ya memang kita bisa memperoleh banyak pelajaran penting dengan berguru dari pengalaman orang lain, tapi terkadang permasalahan yang kita alami sendiri tentu lebih membekas bukan ?
Kita tidak akan pernah tahu rasa gula itu manis jika kita tak tahu bahwa kopi itu pahit. Perbedaan pun memberi sebuah pelajaran. Dari kepanitiaan ini banyak hal yang saya peroleh. Mulai dari mengenal dan memahami watak banyak orang secara bersamaan, belajar mengalah dan melawan ego masing-masing, belajar mensyukuri indahnya perbedaan, sampai belajar melayani tanpa pamrih dan tanpa banyak menuntut.
Terkadang ada banyak orang yang berfikir, untuk apa sih capek-capek kerja ikut kepanitiaan ini itu tapi ngga dapet bayaran, mending kerja dapet uang atau tidur dirumah pake kipasan lebih enak kan..
Hey, tidak semuanya bisa dinilai dengan materi. Banyak orang belum menyadari bahwa terkadang apa yang lebih penting itu tidak terlihat wujudnya. Tentunya dengan niat utama hanya karena Allah semata..
Untuk apa kita mendaki gunung tertinggi, kita ciptakan asa setinggi bintang, kita sebrangi lautan jika bukan untuk kembali kepada Tuhan kita Allah Azza wa Jalla ? :)
demi masa, sesungguhnya manusia kerugian. Melainkan yang yang beriman dan beramal sholeh
- QS. Al-Ashr 1-3
Sekalipun yang kita kejar adalah sebuah ketidakpastian
Namun kita tetap berlari dg penuh keyakinan
Karena kita tau apa yang kita jemput adalah hasil terbaik dari usaha terbaik yang kita lakukan
Aku mengerti banyak hal karena kalian
Bahwa jika hari ini mendung tak berarti hujan akan turun
-kita
Lapangan becek, ndak ada ojek :D
Belajar dari setiap kejadian dalam hidup kita akan semakin mendewasakan diri kita. Pahit manis tentu itu semua telah berjalan sesuai dengan skenarioNya. Ya memang kita bisa memperoleh banyak pelajaran penting dengan berguru dari pengalaman orang lain, tapi terkadang permasalahan yang kita alami sendiri tentu lebih membekas bukan ?
Kita tidak akan pernah tahu rasa gula itu manis jika kita tak tahu bahwa kopi itu pahit. Perbedaan pun memberi sebuah pelajaran. Dari kepanitiaan ini banyak hal yang saya peroleh. Mulai dari mengenal dan memahami watak banyak orang secara bersamaan, belajar mengalah dan melawan ego masing-masing, belajar mensyukuri indahnya perbedaan, sampai belajar melayani tanpa pamrih dan tanpa banyak menuntut.
Terkadang ada banyak orang yang berfikir, untuk apa sih capek-capek kerja ikut kepanitiaan ini itu tapi ngga dapet bayaran, mending kerja dapet uang atau tidur dirumah pake kipasan lebih enak kan..
Hey, tidak semuanya bisa dinilai dengan materi. Banyak orang belum menyadari bahwa terkadang apa yang lebih penting itu tidak terlihat wujudnya. Tentunya dengan niat utama hanya karena Allah semata..
Untuk apa kita mendaki gunung tertinggi, kita ciptakan asa setinggi bintang, kita sebrangi lautan jika bukan untuk kembali kepada Tuhan kita Allah Azza wa Jalla ? :)
demi masa, sesungguhnya manusia kerugian. Melainkan yang yang beriman dan beramal sholeh
- QS. Al-Ashr 1-3
Friday, August 22, 2014
Namamu adalah do'a untukmu
Nama adalah do’a dari kedua orang tua untuk
anaknya. Setiap orang tua memiliki pesan dan pengharapan rahasia yang tercantum
sepanjang hayat dalam nama yang ada didiri anaknya. Sebuah nama tentu memiliki sejarahnya
masing-masing. Sejak sekian lama saya baru-baru ini mengetahui arti dari nama
yang diberikan oleh ummi dan abi saya. Rumaisha Nur Ulya, rumaisha berarti yang
mendamaikan hati, nur artinya cahaya, dan ‘ulya memiliki makna yang Tinggi di
sisi Allah. Jadi jika digabungkan nama saya memiliki arti, Cahaya Tinggi yang
Mendamaikan Hati.
Yang paling membuat saya
penasaran adalah makna dan sejarah dibalik nama Rumaisha itu sendiri. Berikut
adalah kisahnya. Rumaisha adalah salah seorang shahabiyah Rasulullah SAW.Untuk
lengkapnya begini ceritanya:Ia seorang wanita keturunan bangsawan dari kabilah
Anshar suku Khazraj memiliki sifat keibuan dan berwajah manis menawan. Selain
itu ia juga berotak cerdas penuh kehati-hatian dalam bersikap, dewasa dan
berakhlak mulia, sehingga dengan sifat-sifatnya yang istimewa itulah pamannya
yang bernama Malik bin Nadhar melirik dan mempersuntingnya. Rumaisha Ummu
Sulaim binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Malik adalah satu dari wanita
saliha yang memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullah.
Pada saat Rasululllah
menyerukan dakwah menuju tauhid, tanpa keraguan lagi Ummu Sulaim langsung
memeluk agama Islam, dan tidak peduli akan gangguan dan rintangan yang kelak
akan dihadapinya dari masyarakat jahili paganis.
Namun suaminya, Malik bin
Nadhir sangat marah saat mengetahui istrinya telah masuk Islam. Dengan dada
gemuruh karena emosi, ia berkata pada Ummu Sulaim: "Engkau kini telah
terperangkap dalam kemurtadan!"
"Saya tidak murtad.
Justru saya kini telah beriman," jawab Ummu Sulaim dengan mantap. Dan
kesungguhan Ummu Sulaim memeluk agama Allah tidak hanya sampai di situ. Ia juga
tanpa bosan berusaha melatih anaknya, Anas, yang masih kecil untuk mengucapkan
dua kalimat syahadat.
Melihat kesungguhan istrinya
serta pendiriannya yang tak mungkin tergoyahkan membuat Malik bin Nadhir bosan
dan tak mampu mengendalikan amarahnya. Hingga ia kemudian bertekad untuk
meninggalkan rumah dan tidak akan kembali sampai istrinya mau kembali kepada
agama nenek moyang mereka. Ia pun pergi dengan wajah suram. Sayangnya, di
tengah jalan ia bertemu dengan musuhnya, kemudian ia dibunuh. Saat mendengar
kabar kematian suaminya dengan ketabahan yang mengagumkan ia berkata,
"Saya akan tetap menyusui Anas sampai ia tak mau menyusu lagi, dan
sekali-kali saya tak ingin menikah lagi sampai Anas menyuruhku."
Setelah Anas agak besar, Ummu
Sulaim dengan malu-malu mendatangi Rasulullah dan meminta agar beliau bersedia
menerima Anas sebagai pembantunya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun
menerima Anas dengan rasa gembira. Dan dari semua keputusannya itu, Ummu Sualim
kemudian banyak dibicarakan orang dengan rasa kagum.
Dan seorang bangsawan bernama
Abu Thalhah tak luput memperhatikan hal itu. Dengan rasa cinta dan kagum yang
tak dapat disembunyikan tanpa banyak pertimbangan ia langsung melangkahkan
kakinya ke rumah Ummu Sulaim untuk melamarnya dan menawarkan mahar yang mahal.
Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan
rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan
dan rasa hormat,
"Tidak selayaknya saya
menikah dengan seorang musyrik, ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa sesembahanmu
selama ini hanyalah sebuah patung yang dipahat oleh keluarga fulan. Dan apabila
engkau mau menyulutnya api niscaya akan membakar dan menghanguskan
patung-patung itu."
Perkataan Ummu Sulaim amat
telak menghantam dadanya. Abu Thalhah tak percaya dengan apa yang ia lihat dan
ia dengar. Namun itu semua merupakan realita yang harus ia terima. Abu Thalhah
bukanlah orang yang cepat putus asa. Dikarenakan cintanya yang tulus dan
mendalam terhadap Ummu Sulaim, di lain kesempatan ia datang lagi menjumpai
ibunda Anas dan mengiming-iming mahar yang lebih wah serta kehidupan kelas
atas. Sekali lagi, Ummu Sulaim muslimah yag cerdik dan pintar ini tetap teguh
dengan keimanannya. Sedikit pun ia tidak tergoda oleh kenikmatan dunia yag
dijanjikan oleh Abu Thalhah. Baginya kenikmatan Islam akan lebih langgeng
daripada seluruh kenikmatan dunia. Masih dengan penolakanya yang halus ia
menjawab, "Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti
engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang
muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa
keinginan saya?"
"Engkau menginginkan
dinar dan kenikmatan," kata Abu Thalhah. "Sedikitpun saya tidak
menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera
memeluk agama Islam," tukas Ummu Sualim tandas. "Tetapi saya tidak
mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?" Tanya Abu Thalhah.
"tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri," tegas Ummu
Sulaim. Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallam yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya.
Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam
berseru, "Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak
pada kedua bola matanya."
Ketulusan hati Ummu Sulaim
benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim
hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh
kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri
dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hinnga tanpa terasa di hadapan
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam lisan Abu Thalhah basah
mengulang-ulang kalimat, "Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah.
Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan
saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya." Ummu Sulaim tersenyum haru
dan berpaling kepada anaknya Anas, "Bangunlah wahai Anas."
Menikahlah Ummu Sulaim dengan
Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit
–seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, "Sama sekali aku belum
pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim,
yaitu keislaman suaminya." Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah
tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.
Abu Thalhah sendiri adalah
seorang konglomerat nomor satu dari kabilah Anshar. Dan harta yang paling dia
cintai yaitu tanah perkebunan "Bairuha". Tanah perkebunan itu
letaknya persis menghadap masjid. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam
sendiri pernah minum air segar yang ada di lokasi itu, sampai kemudian turun ayat
yang berbunyi:
"Sekali-kali belum sampai
pada kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu
cintai." (Ali Imran:92) Mendengar ayat ini, kontan Abu Thalhah menghadap
Rasulullah. Setelah membacakan ayat tadi Abu Thalhah melanjutkan, "Dan
sesungguhnya harta yang paling saya cintai adalah tanah perkebunan Bairuha.
Saat ini tanah itu saya sedekahkan untuk Allah dengan harapan akan mendapatkan
ganjaran kebaikan dari Allah kelak. Maka pergunakanlah sekehendak Anda, wahai
Rasulullah." Dan bersabdalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,
"Bakh, bakh itu adalah harta yang menguntungkan dan saya telah mendengar
perkataanmu tentang harta itu dan saya sekarang berpendapat sebaiknya engkau
bagi-bagikan tanah itu untuk keluarga kalian."
Abu Thalhah pun menuruti
perintah Rasululah dan membagi-bagikan tanah itu kepada sanak familinya dan
anak keturunan pamannya. Tak berapa lama Alah memuliakan seorang anak laki-laki
kepada pasangan berbahagia itu dan diberi nama Abu Umair. Suatu kali burung
kesayangan Abu Umair mati sehingga Abu Umair menangis dengan sedih. Saat itu
lewatlah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya. Melihat
kesedihan Abu Umair, Rasulullah segera menghibur dan bertanya, "Wahai Abu
Umair apa gerangan yang diperbuat oleh burung kecil?"
Namun takdir Allah memang tak
mampu diduga. Allah subhanahu wa ta’ala kembali ingin menguji kesabaran
pasangan sabar ini. Tiba-tiba saja, bocah mungil mereka Abu Umair jatuh sakit
sehingga ayah dan ibunya dibuat cemas dan repot. Padahal ia adalah putra
kesayangan Abu Thalhah. Jika ia pulang dari pasar, yang pertama kali ditanyakan
adalah kesehatan dan keadaan putranya dan ia belum mereasa tenang bila belum
melihatnya. Tepat pada waktu sholat, Abu Thalhah pergi ke masjid. Tak lama
setelah kepergiannya, putranya Abu Umair menghembuskan nafas terakhir.
Ummu Sulaim memang seorang ibu
mukminah yang sabar. Ia menerima peristiwa itu dengan sabar dan tenang. Ummu
Sulaim lantas menidurkan putranya di atas kasur dan berujar berulang-ulang,
"Innaa lillahi wa inna ilaihi rrji’un." Dengan suara berbisik ia
berkata kepada sanak keluarganya, "Jangan sekali-kali kalian
memberitahukan perihal putranya pada Abu Thalhah sampai aku sendiri yang
memberitahunya." Sekembalinya Abu Thalhah, alhamdulillah, air mata
kesayangan Ummu Sulaim telah mongering. Ia menyambut kedatangan suaminya dan
siap menjawab pertanyaannya. "Bagaimana keadaan putraku sekarang?" "Dia
lebih tenang dari biasanya." Jawab Ummu Sulaim dengan wajar. Abu Thalhah
merasa begitu letih hingga tak ada keinginan menengok putranya. Namun hatinya
turut berbunga-bunga mengira putranya dalam keadaan sehat wal afiat. Ummu
Sulaim pun menjamu suaminya dengan hidangan yang istimewa dan berdandan serta
berhias dengan wangi-wangian, membuat Abu Thalhah tertarik dan mengajaknya
tidur bersama.
Setelah suaminya terlelap,
Ummu Sulaim memuji kepada Allah karena berhasil menentramkan suaminya perihal
putranya, karena ia menyadari Abu Thalhah telah mengalami keletihan seharian,
sehingga ia amembiarkan suaminya tertidur pulas. Menjelang subuh, baru Ummu
Sulaim berbicara pada suaminya, seraya bertanya, "Wahai Abu Thalhah apa
pendapatmu bila ada sekelompok orang meminjamkan barang kepada tetangganya
lantas ia meminta kembali haknya. Pantaskan jika si peminjam enggan
mengembalikannya?"
"Tidak," jawab Abu Thalhah.
"Bagaimana jika si peminjam enggan mengembalikannya setelah
menggunakannya?" "Wah, mereka benar-benar tidak waras," Abu
Thalhah menukas.
"Demikian pula putramu. Allah meminjamkannya
pada kita dan pemiliknya telah mengambilnya kembali. Relakanlah ia," kata
Ummu Sulaim dengan tenang. Pada mulanya Abu Thalhah marah dan membentak,
"Kenapa baru sekarang kau beritahu, dan membiarkan aku hingga aku ternoda
(berhadats karena berhubungan suami istri)?" Dengan rasa tabah Ummu Sulaim
tak henti-henti mengingatkan suaminya hingga ia kembali istirja dan memuji
Allah dengan hati yang tenang.
Pagi-pagi buta sebelum cahaya matahari kelihatan
penuh, Abu Thalhah menjumpai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan
menceritakan kejadian itu. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun
bersabda, "Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan barakah pada malam
pengantin kalian berdua."
Benar saja Ummu Sulaim lantas mengandung lagi dan
melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin Thalhah oleh Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan subhanallah barakahnya ternyata tak hanya
sampai di situ. Abdullah kelak di kemudian hari memiliki tujuh orang putra yang
semuanya hafizhul Qur’an. Keutamaan Ummu Sulaim tidak hanya itu, Allah
subhanahu wa ta’ala juga pernah menurunkan ayat untuk pasangan suami istri itu
dikarenakan suatu peristiwa. Sampau Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam
menggembirakannya dengan janji surga dalam sabdanya
"Aku memasuki surga dan aku mendengar
jalannya seseorang. Lantas aku bertanya "Siapakah ini?" Penghuni
surga spontan menjawab "Ini adalah Rumaisha binti Milhan, ibnu Anas bin
Malik."
-subhanallah wa bihamdi subhanallahil adzim
Monday, June 23, 2014
Irfan Makki feat Maher Zain - I Believe
When you’re searching for the light
And you see no hope in sight
Be sure and have no doubt
He’s always close to you
Be sure and have no doubt
He’s always close to you
He’s the one who knows you best
He knows what’s in your heart
You’ll find your peace at last
If you just have faith in Him
He knows what’s in your heart
You’ll find your peace at last
If you just have faith in Him
You’re always in our hearts and minds
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
My biggest wish is to see you one day
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
My biggest wish is to see you one day
Chorus
I believe
I believe
Do you believe, oh do you believe?
I believe
Do you believe, oh do you believe?
Coz I believe
In a man who used to be
So full of love and harmony
He fought for peace and liberty
And never would he hurt anything
He was a mercy for mankind
A teacher till the end of time
No creature could be compared to him
So full of light and blessings
In a man who used to be
So full of love and harmony
He fought for peace and liberty
And never would he hurt anything
He was a mercy for mankind
A teacher till the end of time
No creature could be compared to him
So full of light and blessings
You’re always in our hearts and minds
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
If God wills we’ll meet one day
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
If God wills we’ll meet one day
Chorus
If you lose your way
Believe in a better day
Trials will come
But surely they will fade away
If you just believe
What is plain to see
Just open your heart
And let His love flow through
Believe in a better day
Trials will come
But surely they will fade away
If you just believe
What is plain to see
Just open your heart
And let His love flow through
I believe I believe, I believe I believe
And now I feel my heart is at peace
And now I feel my heart is at peace
Chorus
I believe I believe, I believe I believe
Lyrics: Maher Zain, Bara Kherigi & Irfan Makki
Melody: Irfan Makki & Maher Zain
Arrangement: Maher Zain
Melody: Irfan Makki & Maher Zain
Arrangement: Maher Zain
Friday, June 6, 2014
KIPI #10 : Teori Anchor
Bismillahirrahmanirrahiim..
Sebuah kado notes kecil di Facebook dari seorang kawan sejati yang meskipun jauh ditampaknya namun dekat dikenyataannya, dihati :)
Uhibbi Ukhti Fillah Muthi'ah Sa'idah..
semoga barakah bagi kita semua :)
Allahummaamiin..
=====================
June 5, 2014 at 6:51pm
Kamis, 5 Juni 2014. 16.20 WIB - 17.40 WIB.
In the name of Allah The Most Gracious, The Most Merciful :)
Ada yang berbeda dari KIPI yang saya ikuti kali ini. Entah, saya merasa banyak point yang bisa menjadi bahan perenungan :D
Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini saya di beri izin, kelapangan, serta kemudahan oleh Allah untuk melangkahkan kaki, menuju ruang G-100 Psikologi UGM, menuntut ilmu mengenai Psikologi Islam yang di bawakan oleh Bapak Bagus Riyono. Banyak ilmu yang saya dapat melalui materi yang beliau sampaikan :)
Kesempatan kali ini, beliau menyampaikan mengenai TEORI ANCHOR.
Apa itu teori anchor? Saya pun di awal bertanya-tanya. Tetapi semakin ke sini, insyaAllah kita akan mengenal, apa itu teori anchor :) (meski belum mendalam, minimal bisa mengenal :))
Bismillah, saya berusaha me-recall memory. Saya mengharap kritik dan masukan temen-temen ya, jika ada yang kurang tepat :D
Di awal, slide pertama yang saya saksikan adalah slide berisi statement bahwa , “Manusia memiliki kebebasan untuk memilih.”
Salah satu bentuk kekuasaan-Nya, yaitu memberi kewenangan kepada hamba-Nya untuk memilih. Melalui proses kognisi dan afeksi yang di karuniakan kepadanya. Ada manusia yang memilih mengabaikan ‘SOP’ (Standar Operational Prosedure) (Al-Qur’an-red) yang telah Dia karuniakan kepada kita, namun ada pula manusia yang begitu senang hati mengikutinya.
Memilih apa? Memilih apapun. Tindakan, sikap, penilaian, persepsi, ekspresi, jalan hidup, keputusan, dan lain sebagainya :)
Lantas, pertanyaan selanjutnya adalah, “Bagaimana kita (manusia) memanfaatkan kebebasan yang di amanahkan kepada kita?.” Tentu masing-masing kita memiliki jawaban yang tidak mesti sama.
Mari kita hayati, bahwa masa depan kita bersifat R.U.H. Yaitu, RISK, UNCERTAINLY, & HOPE. Penuh dengan resiko, tidak pasti, dan merupakan sebuah harapan. Sesuatu yang belum nampak, tetapi baru bisa di prediksi dengan usaha yang bisa di amati. (sunnatullah-red)
Lalu, apa yang harus kita anggap sebagai resiko yang harus kita hindari?
Contoh sederhananya, kita ini hidup ingin selamat atau benar??? Mungkin terlihat mudah untuk menjawabnya, tetapi sejatinya di butuhkan perenungan yang tidak sederhana.
Terkadang ketakutan kita hanyalah karena bayang-bayang kita sendiri.
Kepada apa atau siapa kita akan menggantungkan harapan (hope)?
Kita tentu membutuhkan jawaban atas semua pertanyaan itu. :)
Dan, jawaban yang kita pilih akan menentukan kualitas diri kita.
Lantas, apakah ANCHOR itu?
Dalam hal ini, anchor di definisikan oleh Pak Bagus Riyono sebagai ;
1. Sesuatu yang memberikan ketenangan & kestabilan. Jawaban-jawaban itulah yang di sebut anchor.
2. Sesuatu yang kita jadikan andalan untuk menjalani kehidupan ini.
3. Tempat kita bergantung.
4. Tempat kita berlabuh, pulang. Istilahnya home sweet home.
5. Alasan dari perilaku kita, atau yang popular kita kenal dengan istilah motif. Anchor maknanya lebih luas dibandingkan dengan motif. Motif adalah bagian dari anchor.
Maka, alurnya adalah ;
Kita sebagai manusia, memiliki kebebasan untuk memilih à Kita sebagai manusia selalu menghadapi R.U.H. (Risk, Uncertanly, & hope) yang selalu membuat gelisah à karena gelisah, kita selalu mencari Anchor (jawaban atas pertanyaan di atas).
Contohnya, mengapa kita melakukan ini-itu? Niatnya untuk apa? Alasannya apa? Tujuannya apa?
Maka dapat di tarik kesimpulan awal bahwa, teori anchor ini bisa kita sebut dengan teori tentang niat :)
Setiap manusia gelisah --> karena gelisah --> mencari Anchor.
Contohnya lagi, Mengapa Anda datang ke sini? Saya datang ke sini untuk mencari ilmu. Lalu ilmu itu untuk apa? Sebagai bekal untuk menjalani hidup yang lebih terarah.
Dari jawaban di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa sejatinya manusia itu mencari ketenangan dan berusaha untuk senantiasa yakin akan kehidupannya. Kembali pada tujuan awal, mencari ketenangan.
Proses mencari itu adalah sebuah proses yang dinamis :’) akan mudah berubah. Seiring berkembang pula pengalaman, informasi, serta kognisi kita.
“Life is in search of Anchors.”
Lalu ada pertanyaan menarik yang bisa menjadi bahan refleksi.
“Adakah orang yang tidak mencari Anchor?”
Teori ini ibarat berlian. Memiliki banyak sisi. Di mana apabila kita melihat dari satu sisi, dia tetap merupakan bagian dari sisi yang lain, tak terpisah. Namun bisa di lihat dari manapun.
Pertanyaan selanjutnya adalah,
“Apa saja pilihan kita? Dan, apa yang seharusnya kita pilih?”
Ada sebuah perkataan dari seorang yang terkemuka,
“MATILAH SEBELUM MATI.”
What does it means?
It means…
Temukan anchor sebelum kita benar-benar mati :’) (berpisah ruh dengan jasad).
Ketika kita ingin bahagia dunia & akhirat, maka mari kita temukan anchor itu sebelum mati…
Ada sebuah contoh juga,
Belum tentu orang yang sejak kecil hidup di lingkungan yang islami, secara otomatis ia sudah menemukan anchor. :"
Salah satu contoh nyata ketika seseorang menemukan anchor adalah, ketika pada awalnya ia belum mengenal dan menganut ajaran islam, hingga akhirnya menjadikan/memilih ajaran islam sebagai jalan hidupnya.
Mengapa bisa begitu?
Karena islam itu tidak di wariskan / turunan. Ia adalah PILIHAN dan Allah telah menurunkan PETUNJUK.
HIDUP INI ADALAH PERJALAN MENCARI ANCHOR. PERJALANAN MENCARI JAWABAN.
Lalu selanjutnya, “Apa saja yang dapat menjadi anchor?”
1. Others : orang terdekat kita. Bisa keluarga, tetangga, saudara, dsb. Dan ketika seseorang menjadikan others ini sebagai anchor/tempat bergantung, maka akan menimbulkan perilaku taklid (sekadar ikut-ikutan). Menggantungkan hidup kita kepada orang lain.
2. Self : diri kita sendiri. Dan ketika seseorang menjadikan self ini sebagai anchor, maka perilakunya akan mengarah ke perilaku sombong. Membanggakan serta mengangungkan diri sendiri. Mengandalkan serta bergantung pada diri sendiri. Padahal, belum tentu kita bisa sepenuhnya dan selalu mengandalkan diri kita sendiri. Ada kalanya kita down, sedih, dsb.
3. Materials : materi atau benda. Contohnya saja materi yang berupa uang atau harta, maka akan memunculkan koruptor. Orang-orang yang menumpuk kekayaan, padahal belum tentu itu adalah haknya.
4. Virtues : ide, sesuatu yang baik, meaningful, sesuatu hal yang positif tetapi abstrak. Bisa juga berarti hikmah, kearifan, kebijaksanaan. Nah, pada taraf ini, manusia menjadikan GOD (ALLAH STW) sebagai anchornya. Dan ketika seseorang menjadikan virtues ini sebagai anchornya, maka ia cenderung akan lebih memaknai, mengambil pelajaran, dari setiap fase kehidupannya. Musibah yang di lalui maupun anugerah yang ia terima, ia maknai secara bijaksana.
Ada juga istilah anchor fatalistik, yaitu bergantung kepada Allah, tetapi tanpa ilmu. (semoga kita tidak termasuk di dalamnya).
Alhamdulillah, hikmah yang saya ambil dari materi yang saya dapat hari ini adalah ;
1. Saya ini sedang dalam masa pencarian. Hanya saja, saya tidak tahu pasti, saya sudah sampai kilometer berapa.2. Saya harus senantiasa memperbaharui anchor saya. Memperbaiki kualitasnya, menambah kekuatannya. Karena diri ini pada dasarnya merasa gelisah dan mencari ketenangan.
3. Ketenangan akan kita dapatkan, ketika kita menjadikan Allah sebagai anchor kita dalam kehidupan ini :’)
Wallahu a’lam bish showab, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Saya memohon ampun kepada Allah jika ada memori yang blm ter-recall. Jazakumullah khairan katsiir IPLF, telah menjadi jalan bagi tersebarnya ilmu ini oleh Bapak Bagus Riyono :)
*especially thanks to mbak Arifah, my sist fillah. For your stimulus to me, to post this words hihi :) *correct me if I wrong, sista. Jazakillah :*
=====================
-to be continued...
Subscribe to:
Posts (Atom)


