Translate

Sunday, September 28, 2014

Lillah ?

Perbuatan yang kita lakukan sia-sia karena tak disertai rasa ikhlas,
Perjuangan yang kita lakukan sia-sia karena tak ada tujuan yang jelas,
Pengetahuan yang kita miliki sia-sia karena tak diamalkan,
Pengorbanan yang kita lakukan sia-sia karena mengharapkan pujian,
Marah yang kita lampiaskan sia-sia karena dilandaskan emosi bukan rasio,
Cinta yang kita berikan sia-sia karena dilandasi syahwat semata,
Kegagalan yang kita alami sia-sia karena dijadikan alasan keputusasaan,
Musibah yang kita jumpai sia-sia karena tak menjadikan kita semakin kuat,
Kesuksesan yang kita raih sia-sia karena membuat kita mejadi sombong..

Na'udzubillahimindzalik..

Kesiapan apa lagi yang akan kita lakukan ?
Apakah kita hanya akan berbuat sia-sia tanpa ada manfaatnya ?
Sudahkan Dia menjadi prioritas kita dalam beramal ?
Sungguh tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, selagi masih ada kesempatan mau tunggu apa lagi ?
Karena Allah menilai PROSES nya bukan hasilnya..
Ciptakan proses terbaik dari usaha terbaik kita, dan serahkan hasil akhirnya pada Allah semata..
Terus upgrade kapasitas diri agar kita menjadi 'pantas' sebagai yang dicintaNya :)

-Semesta Membina

Friday, September 26, 2014

Ukhuwwah Fillah Till Jannah


Kebanyakan orang menjalin tali persahabatan atau tali persaudaraan setelah cukup lama saling mengenal. Bahkan ada yang sangat lama, bertahun-tahun. Katanya sih tahun-tahun yang dilewati besama sebagai ajang saling mengenal lebih jauh. Kesimpulannya semakin lama bersahabat maka semakin kenal kita sama dia. ciee..
Aku emang baru kenal dia, mungkin masih belum terhitung satu tahun jadi masih prematur.. :D
Ajaibnya, kita klop banget. Kemana-mana pas berdua, kaya sepasang sandal crocs coklat yang ditempelin sticker (kata yang punya sih biar ngga ketuker). Mereka pernah berpisah, dan Allah mempertemukannya kembali dengan cara yang unpredictable. Halah :D
Sebuah ikatan persaudaraan akan bertahan lama jika landasan dari ikatan itu kuat. Andai kata kita mau membangun sebuah bangunan tentu banyak hal yang perlu dijadikan pertimbangan. Baik dari segi konstruksinya, sampai bahan bangunan yang akan dipakai. Tak sekedar menyusun, tatanan batu bata paling bawah harus rapi, kokoh, dan kuat, tentunya dengan penuh perhitungan saat memasangnya. Barulah kita bisa memiliki sebuah bangunan yang kokoh yang akan awet dan tahan lama meski diterjang badai, terguyur derasnya hujan dan terpapar panasnya sengatan terik matahari.. :D
Yap, bener banget. Allah-lah yang wajib kita jadikan landasan terkuat dalam sebuah ikatan. Agar ikatan yang kita jalin mengandung keberkahan didunia dan akhirat sehingga mempu mengantarkan kita dan mengumpulkan kita kembali si SyurgaNya.. :) Sekalipun ada ikatan darah, tidak menjamin akan terjalin hubungan kuat yang saling mencintai dan menghormati dengan tulus. Tidak adanya landasan saling cinta karena Allah, membuat kasus jalinan persaudaraan yang tersemai bertahun-tahun lamanya malah kandas ditengah jalan, karena tidak kokoh dan saat tertiup angin, baru ketiup angin, eh tumbang.... *uwooo
Ada rumusnya nih untuk menjalin hubungan persaudaraan yang erat antara manusia yang berlandaskan cinta atas nama Allah, hubungan yang ngga bakal keputus kecuali Allah berkehendak lain. Namanya rumus Cinta Segitiga. Eits... jangan salah fokus, cinta segitiga disini maksudnya cinta antara kita dan dia, dan diantara kita dan dia ada Allah. Kita mencintai Allah begitupun dia, jadi Allah menjadi satu-satunya alasan terkuat kita mencintai dia. Dan Allah mencintai kita berdua yang saling mencintai karena Allah.. yeyy :3 *dia=sahabat kita
Ketika Allah menjadi prioritas, jika ada permasalahan tentu kita akan mengembalikannya kepada Allah lagi. Menyelesaikan permasalahaan yang ada berdasarkan hukum Allah terhadap permasalahan tersebut. Landasan cinta karena Allah dan untuk Allah akan semakin menumbuhkan ikatan yang dahsyat dalam diri seseorang dengan yang lainnya. :)

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang saling mencintai karena Allah :)
Allahummaamin..
Ukhibbukum fillah~

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  "Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya". Hadist ditakhrij Abu Ya’la (no. 2880, 3171, 3069, 3245).


Sunday, September 7, 2014

Sekali Berarti

biarlah hembusnya angin menguatkanmu
dan biarlah hujan merimbunkan daun-daunmu
selagi kaki kokoh berdiri
dan harapan kan jadi kenyataan
maka jadikanlah yang sekali ini berarti

-rnu

Kita

Kita akan terus berlari bukan ?
Sekalipun yang kita kejar adalah sebuah ketidakpastian
Namun kita tetap berlari dg penuh keyakinan
Karena kita tau apa yang kita jemput adalah hasil terbaik dari usaha terbaik yang kita lakukan
Aku mengerti banyak hal karena kalian
Bahwa jika hari ini mendung tak berarti hujan akan turun

-kita


Lapangan becek, ndak ada ojek :D
Belajar dari setiap kejadian dalam hidup kita akan semakin mendewasakan diri kita. Pahit manis tentu itu semua telah berjalan sesuai dengan skenarioNya. Ya memang kita bisa memperoleh banyak pelajaran penting dengan berguru dari pengalaman orang lain, tapi terkadang permasalahan yang kita alami sendiri tentu lebih membekas bukan ?
 
Kita tidak akan pernah tahu rasa gula itu manis jika kita tak tahu bahwa kopi itu pahit. Perbedaan pun memberi sebuah pelajaran. Dari kepanitiaan ini banyak hal yang saya peroleh. Mulai dari mengenal dan memahami watak banyak orang secara bersamaan, belajar mengalah dan melawan ego masing-masing, belajar mensyukuri indahnya perbedaan, sampai belajar melayani tanpa pamrih dan tanpa banyak menuntut.
Terkadang ada banyak orang yang berfikir, untuk apa sih capek-capek kerja ikut kepanitiaan ini itu tapi ngga dapet bayaran, mending kerja dapet uang atau tidur dirumah pake kipasan lebih enak kan..

Hey, tidak semuanya bisa dinilai dengan materi. Banyak orang belum menyadari bahwa terkadang apa yang lebih penting itu tidak terlihat wujudnya. Tentunya dengan niat utama hanya karena Allah semata..
Untuk apa kita mendaki gunung tertinggi, kita ciptakan asa setinggi bintang, kita sebrangi lautan jika bukan untuk kembali kepada Tuhan kita Allah Azza wa Jalla ? :)

demi masa, sesungguhnya manusia kerugian. Melainkan yang yang beriman dan beramal sholeh
- QS. Al-Ashr 1-3
 
 

Friday, August 22, 2014

Namamu adalah do'a untukmu

Nama adalah do’a dari kedua orang tua untuk anaknya. Setiap orang tua memiliki pesan dan pengharapan rahasia yang tercantum sepanjang hayat dalam nama yang ada didiri anaknya. Sebuah nama tentu memiliki sejarahnya masing-masing. Sejak sekian lama saya baru-baru ini mengetahui arti dari nama yang diberikan oleh ummi dan abi saya. Rumaisha Nur Ulya, rumaisha berarti yang mendamaikan hati, nur artinya cahaya, dan ‘ulya memiliki makna yang Tinggi di sisi Allah. Jadi jika digabungkan nama saya memiliki arti, Cahaya Tinggi yang Mendamaikan Hati.

Yang paling membuat saya penasaran adalah makna dan sejarah dibalik nama Rumaisha itu sendiri. Berikut adalah kisahnya. Rumaisha adalah salah seorang shahabiyah Rasulullah SAW.Untuk lengkapnya begini ceritanya:Ia seorang wanita keturunan bangsawan dari kabilah Anshar suku Khazraj memiliki sifat keibuan dan berwajah manis menawan. Selain itu ia juga berotak cerdas penuh kehati-hatian dalam bersikap, dewasa dan berakhlak mulia, sehingga dengan sifat-sifatnya yang istimewa itulah pamannya yang bernama Malik bin Nadhar melirik dan mempersuntingnya. Rumaisha Ummu Sulaim binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Malik adalah satu dari wanita saliha yang memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullah.
Pada saat Rasululllah menyerukan dakwah menuju tauhid, tanpa keraguan lagi Ummu Sulaim langsung memeluk agama Islam, dan tidak peduli akan gangguan dan rintangan yang kelak akan dihadapinya dari masyarakat jahili paganis.
Namun suaminya, Malik bin Nadhir sangat marah saat mengetahui istrinya telah masuk Islam. Dengan dada gemuruh karena emosi, ia berkata pada Ummu Sulaim: "Engkau kini telah terperangkap dalam kemurtadan!"
"Saya tidak murtad. Justru saya kini telah beriman," jawab Ummu Sulaim dengan mantap. Dan kesungguhan Ummu Sulaim memeluk agama Allah tidak hanya sampai di situ. Ia juga tanpa bosan berusaha melatih anaknya, Anas, yang masih kecil untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Melihat kesungguhan istrinya serta pendiriannya yang tak mungkin tergoyahkan membuat Malik bin Nadhir bosan dan tak mampu mengendalikan amarahnya. Hingga ia kemudian bertekad untuk meninggalkan rumah dan tidak akan kembali sampai istrinya mau kembali kepada agama nenek moyang mereka. Ia pun pergi dengan wajah suram. Sayangnya, di tengah jalan ia bertemu dengan musuhnya, kemudian ia dibunuh. Saat mendengar kabar kematian suaminya dengan ketabahan yang mengagumkan ia berkata, "Saya akan tetap menyusui Anas sampai ia tak mau menyusu lagi, dan sekali-kali saya tak ingin menikah lagi sampai Anas menyuruhku."
Setelah Anas agak besar, Ummu Sulaim dengan malu-malu mendatangi Rasulullah dan meminta agar beliau bersedia menerima Anas sebagai pembantunya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima Anas dengan rasa gembira. Dan dari semua keputusannya itu, Ummu Sualim kemudian banyak dibicarakan orang dengan rasa kagum.
Dan seorang bangsawan bernama Abu Thalhah tak luput memperhatikan hal itu. Dengan rasa cinta dan kagum yang tak dapat disembunyikan tanpa banyak pertimbangan ia langsung melangkahkan kakinya ke rumah Ummu Sulaim untuk melamarnya dan menawarkan mahar yang mahal. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,
"Tidak selayaknya saya menikah dengan seorang musyrik, ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa sesembahanmu selama ini hanyalah sebuah patung yang dipahat oleh keluarga fulan. Dan apabila engkau mau menyulutnya api niscaya akan membakar dan menghanguskan patung-patung itu."
Perkataan Ummu Sulaim amat telak menghantam dadanya. Abu Thalhah tak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Namun itu semua merupakan realita yang harus ia terima. Abu Thalhah bukanlah orang yang cepat putus asa. Dikarenakan cintanya yang tulus dan mendalam terhadap Ummu Sulaim, di lain kesempatan ia datang lagi menjumpai ibunda Anas dan mengiming-iming mahar yang lebih wah serta kehidupan kelas atas. Sekali lagi, Ummu Sulaim muslimah yag cerdik dan pintar ini tetap teguh dengan keimanannya. Sedikit pun ia tidak tergoda oleh kenikmatan dunia yag dijanjikan oleh Abu Thalhah. Baginya kenikmatan Islam akan lebih langgeng daripada seluruh kenikmatan dunia. Masih dengan penolakanya yang halus ia menjawab, "Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?"
"Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan," kata Abu Thalhah. "Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam," tukas Ummu Sualim tandas. "Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?" Tanya Abu Thalhah. "tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri," tegas Ummu Sulaim. Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berseru, "Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya."

Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hinnga tanpa terasa di hadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, "Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya." Ummu Sulaim tersenyum haru dan berpaling kepada anaknya Anas, "Bangunlah wahai Anas."
Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, "Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya." Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.
Abu Thalhah sendiri adalah seorang konglomerat nomor satu dari kabilah Anshar. Dan harta yang paling dia cintai yaitu tanah perkebunan "Bairuha". Tanah perkebunan itu letaknya persis menghadap masjid. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah minum air segar yang ada di lokasi itu, sampai kemudian turun ayat yang berbunyi:
"Sekali-kali belum sampai pada kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." (Ali Imran:92) Mendengar ayat ini, kontan Abu Thalhah menghadap Rasulullah. Setelah membacakan ayat tadi Abu Thalhah melanjutkan, "Dan sesungguhnya harta yang paling saya cintai adalah tanah perkebunan Bairuha. Saat ini tanah itu saya sedekahkan untuk Allah dengan harapan akan mendapatkan ganjaran kebaikan dari Allah kelak. Maka pergunakanlah sekehendak Anda, wahai Rasulullah." Dan bersabdalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, "Bakh, bakh itu adalah harta yang menguntungkan dan saya telah mendengar perkataanmu tentang harta itu dan saya sekarang berpendapat sebaiknya engkau bagi-bagikan tanah itu untuk keluarga kalian."


Abu Thalhah pun menuruti perintah Rasululah dan membagi-bagikan tanah itu kepada sanak familinya dan anak keturunan pamannya. Tak berapa lama Alah memuliakan seorang anak laki-laki kepada pasangan berbahagia itu dan diberi nama Abu Umair. Suatu kali burung kesayangan Abu Umair mati sehingga Abu Umair menangis dengan sedih. Saat itu lewatlah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya. Melihat kesedihan Abu Umair, Rasulullah segera menghibur dan bertanya, "Wahai Abu Umair apa gerangan yang diperbuat oleh burung kecil?"

Namun takdir Allah memang tak mampu diduga. Allah subhanahu wa ta’ala kembali ingin menguji kesabaran pasangan sabar ini. Tiba-tiba saja, bocah mungil mereka Abu Umair jatuh sakit sehingga ayah dan ibunya dibuat cemas dan repot. Padahal ia adalah putra kesayangan Abu Thalhah. Jika ia pulang dari pasar, yang pertama kali ditanyakan adalah kesehatan dan keadaan putranya dan ia belum mereasa tenang bila belum melihatnya. Tepat pada waktu sholat, Abu Thalhah pergi ke masjid. Tak lama setelah kepergiannya, putranya Abu Umair menghembuskan nafas terakhir.
Ummu Sulaim memang seorang ibu mukminah yang sabar. Ia menerima peristiwa itu dengan sabar dan tenang. Ummu Sulaim lantas menidurkan putranya di atas kasur dan berujar berulang-ulang, "Innaa lillahi wa inna ilaihi rrji’un." Dengan suara berbisik ia berkata kepada sanak keluarganya, "Jangan sekali-kali kalian memberitahukan perihal putranya pada Abu Thalhah sampai aku sendiri yang memberitahunya." Sekembalinya Abu Thalhah, alhamdulillah, air mata kesayangan Ummu Sulaim telah mongering. Ia menyambut kedatangan suaminya dan siap menjawab pertanyaannya. "Bagaimana keadaan putraku sekarang?" "Dia lebih tenang dari biasanya." Jawab Ummu Sulaim dengan wajar. Abu Thalhah merasa begitu letih hingga tak ada keinginan menengok putranya. Namun hatinya turut berbunga-bunga mengira putranya dalam keadaan sehat wal afiat. Ummu Sulaim pun menjamu suaminya dengan hidangan yang istimewa dan berdandan serta berhias dengan wangi-wangian, membuat Abu Thalhah tertarik dan mengajaknya tidur bersama.
Setelah suaminya terlelap, Ummu Sulaim memuji kepada Allah karena berhasil menentramkan suaminya perihal putranya, karena ia menyadari Abu Thalhah telah mengalami keletihan seharian, sehingga ia amembiarkan suaminya tertidur pulas. Menjelang subuh, baru Ummu Sulaim berbicara pada suaminya, seraya bertanya, "Wahai Abu Thalhah apa pendapatmu bila ada sekelompok orang meminjamkan barang kepada tetangganya lantas ia meminta kembali haknya. Pantaskan jika si peminjam enggan mengembalikannya?"
"Tidak," jawab Abu Thalhah. "Bagaimana jika si peminjam enggan mengembalikannya setelah menggunakannya?" "Wah, mereka benar-benar tidak waras," Abu Thalhah menukas.
"Demikian pula putramu. Allah meminjamkannya pada kita dan pemiliknya telah mengambilnya kembali. Relakanlah ia," kata Ummu Sulaim dengan tenang. Pada mulanya Abu Thalhah marah dan membentak, "Kenapa baru sekarang kau beritahu, dan membiarkan aku hingga aku ternoda (berhadats karena berhubungan suami istri)?" Dengan rasa tabah Ummu Sulaim tak henti-henti mengingatkan suaminya hingga ia kembali istirja dan memuji Allah dengan hati yang tenang.
Pagi-pagi buta sebelum cahaya matahari kelihatan penuh, Abu Thalhah menjumpai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian itu. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, "Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan barakah pada malam pengantin kalian berdua."
Benar saja Ummu Sulaim lantas mengandung lagi dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin Thalhah oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan subhanallah barakahnya ternyata tak hanya sampai di situ. Abdullah kelak di kemudian hari memiliki tujuh orang putra yang semuanya hafizhul Qur’an. Keutamaan Ummu Sulaim tidak hanya itu, Allah subhanahu wa ta’ala juga pernah menurunkan ayat untuk pasangan suami istri itu dikarenakan suatu peristiwa. Sampau Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menggembirakannya dengan janji surga dalam sabdanya
"Aku memasuki surga dan aku mendengar jalannya seseorang. Lantas aku bertanya "Siapakah ini?" Penghuni surga spontan menjawab "Ini adalah Rumaisha binti Milhan, ibnu Anas bin Malik."

-subhanallah wa bihamdi subhanallahil adzim

Monday, June 23, 2014

Irfan Makki feat Maher Zain - I Believe

When you’re searching for the light
And you see no hope in sight
Be sure and have no doubt
He’s always close to you
He’s the one who knows you best
He knows what’s in your heart
You’ll find your peace at last
If you just have faith in Him
You’re always in our hearts and minds
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
My biggest wish is to see you one day 

Chorus
I believe
I believe
Do you believe, oh do you believe?

Coz I believe
In a man who used to be
So full of love and harmony
He fought for peace and liberty
And never would he hurt anything
He was a mercy for mankind
A teacher till the end of time
No creature could be compared to him
So full of light and blessings
You’re always in our hearts and minds
Your name is mentioned every day
I’ll follow you no matter what
If God wills we’ll meet one day

Chorus

If you lose your way
Believe in a better day
Trials will come
But surely they will fade away
If you just believe
What is plain to see
Just open your heart
And let His love flow through
I believe I believe, I believe I believe
And now I feel my heart is at peace

Chorus

I believe I believe, I believe I believe

Lyrics: Maher Zain, Bara Kherigi & Irfan Makki
Melody: Irfan Makki & Maher Zain
Arrangement: Maher Zain

Friday, June 6, 2014

KIPI #10 : Teori Anchor

Bismillahirrahmanirrahiim.. 
Sebuah kado notes kecil di Facebook dari seorang kawan sejati yang meskipun jauh ditampaknya namun dekat dikenyataannya, dihati :)
Uhibbi Ukhti Fillah Muthi'ah Sa'idah..
semoga barakah bagi kita semua :) 
Allahummaamiin..

=====================
June 5, 2014 at 6:51pm
KIPI (Kuliah Intensif Psikologi Islam) #10

Kamis, 5 Juni 2014. 16.20 WIB - 17.40 WIB.

In the name of Allah The Most Gracious, The Most Merciful :)

Ada yang berbeda dari KIPI yang saya ikuti kali ini. Entah, saya merasa banyak point yang bisa menjadi bahan perenungan :D

Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini saya di beri izin, kelapangan, serta kemudahan oleh Allah untuk melangkahkan kaki, menuju ruang G-100 Psikologi UGM, menuntut ilmu mengenai Psikologi Islam yang di bawakan oleh Bapak Bagus Riyono. Banyak ilmu yang saya dapat melalui materi yang beliau sampaikan :)

Kesempatan kali ini, beliau menyampaikan mengenai TEORI ANCHOR.

Apa itu teori anchor? Saya pun di awal bertanya-tanya. Tetapi semakin ke sini, insyaAllah kita akan mengenal, apa itu teori anchor :) (meski belum mendalam, minimal bisa mengenal :))

Bismillah, saya berusaha me-recall memory. Saya mengharap kritik dan masukan temen-temen ya, jika ada yang kurang tepat :D
 Di awal, slide pertama yang saya saksikan adalah slide berisi statement bahwa , “Manusia memiliki kebebasan untuk memilih.
 Salah satu bentuk kekuasaan-Nya, yaitu memberi kewenangan kepada hamba-Nya untuk memilih. Melalui proses kognisi dan afeksi yang di karuniakan kepadanya. Ada manusia yang memilih mengabaikan ‘SOP’ (Standar Operational Prosedure) (Al-Qur’an-red) yang telah Dia karuniakan kepada kita, namun ada pula manusia yang begitu senang hati mengikutinya.

Memilih apa? Memilih apapun. Tindakan, sikap, penilaian, persepsi, ekspresi, jalan hidup, keputusan, dan lain sebagainya :)

Lantas, pertanyaan selanjutnya adalah, “Bagaimana kita (manusia) memanfaatkan kebebasan yang di amanahkan kepada kita?.” Tentu masing-masing kita memiliki jawaban yang tidak mesti sama.

Mari kita hayati, bahwa masa depan kita bersifat R.U.H. Yaitu, RISK, UNCERTAINLY, & HOPE. Penuh dengan resiko, tidak pasti, dan merupakan sebuah harapan. Sesuatu yang belum nampak, tetapi baru bisa di prediksi dengan usaha yang bisa di amati. (sunnatullah-red)

Lalu, apa yang harus kita anggap sebagai resiko yang harus kita hindari?

Contoh sederhananya, kita ini hidup ingin selamat atau benar??? Mungkin terlihat mudah untuk menjawabnya, tetapi sejatinya di butuhkan perenungan yang tidak sederhana.
Terkadang ketakutan kita hanyalah karena bayang-bayang kita sendiri.

Kepada apa atau siapa kita akan menggantungkan harapan (hope)?

Kita tentu membutuhkan jawaban atas semua pertanyaan itu. :)

Dan, jawaban yang kita pilih akan menentukan kualitas diri kita.

Lantas, apakah ANCHOR itu?

Dalam hal ini, anchor di definisikan oleh Pak Bagus Riyono sebagai ;
1. Sesuatu yang memberikan ketenangan & kestabilan. Jawaban-jawaban itulah yang di sebut anchor.
2. Sesuatu yang kita jadikan andalan untuk menjalani kehidupan ini.
3. Tempat kita bergantung.
4. Tempat kita berlabuh, pulang. Istilahnya home sweet home.
5. Alasan dari perilaku kita, atau yang popular kita kenal dengan istilah motif. Anchor maknanya lebih luas dibandingkan dengan motif. Motif adalah bagian dari anchor.

Maka, alurnya adalah ;
Kita sebagai manusia, memiliki kebebasan untuk memilih à Kita sebagai manusia selalu menghadapi R.U.H. (Risk, Uncertanly, & hope) yang selalu membuat gelisah à karena gelisah, kita selalu mencari Anchor (jawaban atas pertanyaan di atas).

Contohnya, mengapa kita melakukan ini-itu? Niatnya untuk apa? Alasannya apa? Tujuannya apa?

Maka dapat di tarik kesimpulan awal bahwa, teori anchor ini bisa kita sebut dengan teori tentang niat :)

Setiap manusia gelisah --> karena gelisah --> mencari Anchor.

Contohnya lagi, Mengapa Anda datang ke sini? Saya datang ke sini untuk mencari ilmu. Lalu ilmu itu untuk apa? Sebagai bekal untuk menjalani hidup yang lebih terarah.

Dari jawaban di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa sejatinya manusia itu mencari ketenangan dan berusaha untuk senantiasa yakin akan kehidupannya. Kembali pada tujuan awal, mencari ketenangan.
 Proses mencari itu adalah sebuah proses yang dinamis :’) akan mudah berubah. Seiring berkembang pula pengalaman, informasi, serta kognisi kita.

“Life is in search of Anchors.”

Lalu ada pertanyaan menarik yang bisa menjadi bahan refleksi.
 “Adakah orang yang tidak mencari Anchor?”
 Teori ini ibarat berlian. Memiliki banyak sisi. Di mana apabila kita melihat dari satu sisi, dia tetap merupakan bagian dari sisi yang lain, tak terpisah. Namun bisa di lihat dari manapun.
 Pertanyaan selanjutnya adalah,
 “Apa saja pilihan kita? Dan, apa yang seharusnya kita pilih?”
 Ada sebuah perkataan dari seorang yang terkemuka,

“MATILAH SEBELUM MATI.”


What does it means?
 It means…

Temukan anchor sebelum kita benar-benar mati :’) (berpisah ruh dengan jasad).
 Ketika kita ingin bahagia dunia & akhirat, maka mari kita temukan anchor itu sebelum mati…
 Ada sebuah contoh juga,
Belum tentu orang yang sejak kecil hidup di lingkungan yang islami, secara otomatis ia sudah menemukan anchor. :"
 Salah satu contoh nyata ketika seseorang menemukan anchor adalah, ketika pada awalnya ia belum mengenal dan menganut ajaran islam, hingga akhirnya menjadikan/memilih ajaran islam sebagai jalan hidupnya.

Mengapa bisa begitu?

Karena islam itu tidak di wariskan / turunan. Ia adalah PILIHAN dan Allah telah menurunkan PETUNJUK.

HIDUP INI ADALAH PERJALAN MENCARI ANCHOR. PERJALANAN MENCARI JAWABAN.

Lalu selanjutnya, “Apa saja yang dapat menjadi anchor?”

1. Others : orang terdekat kita. Bisa keluarga, tetangga, saudara, dsb. Dan ketika seseorang menjadikan others ini sebagai anchor/tempat bergantung, maka akan menimbulkan perilaku taklid (sekadar ikut-ikutan). Menggantungkan hidup kita kepada orang lain.

2. Self : diri kita sendiri. Dan ketika seseorang menjadikan self ini sebagai anchor, maka perilakunya akan mengarah ke perilaku sombong. Membanggakan serta mengangungkan diri sendiri. Mengandalkan serta bergantung pada diri sendiri. Padahal, belum tentu kita bisa sepenuhnya dan selalu mengandalkan diri kita sendiri. Ada kalanya kita down, sedih, dsb.

3. Materials : materi atau benda. Contohnya saja materi yang berupa uang atau harta, maka akan memunculkan koruptor. Orang-orang yang menumpuk kekayaan, padahal belum tentu itu adalah haknya.

4. Virtues : ide, sesuatu yang baik, meaningful, sesuatu hal yang positif tetapi abstrak. Bisa juga berarti hikmah, kearifan, kebijaksanaan. Nah, pada taraf ini, manusia menjadikan GOD (ALLAH STW) sebagai anchornya. Dan ketika seseorang menjadikan virtues ini sebagai anchornya, maka ia cenderung akan lebih memaknai, mengambil pelajaran, dari setiap fase kehidupannya. Musibah yang di lalui maupun anugerah yang ia terima, ia maknai secara bijaksana.

Ada juga istilah anchor fatalistik, yaitu bergantung kepada Allah, tetapi tanpa ilmu. (semoga kita tidak termasuk di dalamnya).
 Alhamdulillah, hikmah yang saya ambil dari materi yang saya dapat hari ini adalah ;

1. Saya ini sedang dalam masa pencarian. Hanya saja, saya tidak tahu pasti, saya sudah sampai kilometer berapa.

2. Saya harus senantiasa memperbaharui anchor saya. Memperbaiki kualitasnya, menambah kekuatannya. Karena diri ini pada dasarnya merasa gelisah dan mencari ketenangan.

3. Ketenangan akan kita dapatkan, ketika kita menjadikan Allah sebagai anchor kita dalam kehidupan ini :’)

Wallahu a’lam bish showab, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Saya memohon ampun kepada Allah jika ada memori yang blm ter-recall. Jazakumullah khairan katsiir IPLF, telah menjadi jalan bagi tersebarnya ilmu ini oleh Bapak Bagus Riyono :)

 *especially thanks to mbak Arifah, my sist fillah. For your stimulus to me, to post this words hihi :) *correct me if I wrong, sista. Jazakillah :*

=====================
-to be continued...